Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2020

Apa Jadinya Tanpamu?


Identitas Buku

Judul Buku : Apa Jadinya Tanpamu?

Penulis : Lingkan Mangundap

Penerbit : kalangan sendiri

Tahun Terbit : 2017

Tebal Halaman : 51 Halaman 


Sinopsis Buku

Buku Judul Apa Jadinya Tanpamu? merupakan kumpulan kisah dan kerinduan penulis sendiri untuk melayani setiap penyandang kebutuhan khusus yang telah Tuhan hadirkan di tengah dunia ini. buku ini menceritakan awal kerinduan penulis membantu mereka -mereka yang berkebutuhan khusus atas dasar kerinduan tersebut penulis menempuh pendidikan di IKIP Jakarta jurusan Pendidikan Luar Biasa untuk program studi kelainan mental dan melanjutkan studi di Jerman dan kembali ke Indonesia 2005. 


Perjalanan panjang yang terasa sangat menyenangkan bertemu dengan "pribadi-pribadi" Ajaib hasil karya Tuhan yang memperkaya hidup penulis sendiri, berbagi dan menanggung segala perkara dengan optimis membantu para murid dan orang tua murid untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus dengan penanganan sesuai kondisi anak didiknya.


Buku yang berisi hymne of promise, kenangan-kenangan penulis dengan anak didiknya selama belajar di Jerman, mazmur, doa dan puisi-puisi indah. selalu masih ada harapan untuk setiap keadaan."Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya..."Yesaya 42 : 3.


Kelebihan 

Gaya bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembaca, alur cerita kisah panjang penulis menangani mereka yang berkebutuhan khusus membuat pembaca memahami anak berkebutuhan khusus butuh dicintai dan dilayani selalu ada jalan untuk setiap keadaan.


Kekurangan

Penulisan kata kasih dua kali pada hal 50 pada paragraf keempat, penulisan huruf pada setiap kisah menggunakan ukuran huruf yang kecil sebaiknya menggunakan huruf ukuran sedang.


***

Bagi yang ingin konsultasi seputar penanganan berkebutuhan khusus dapat datang ke alamat berikut :

* Altira Business Park Blok D09-10, Jl Yos Sudarso Kav.85, 

   Sunter,  Jakarta Utara. 14350

* Senin s.d Jumat pk 08.00 - 16.00

   Sabtu pk 08.00 - 12.00

* Fb dan Youtube : HOPE SPECIAL NEEDS CENTER 


Senin, 12 Oktober 2020

Menari di Tengah Badai



Identitas Buku 

Judul Buku : Menari di Tengah Badai

Penulis : Sarah Ester

Penerbit : Kompas Gramedia

Tahun terbit : 2016

Tebal halaman : 165 Halaman


Sinopsis Buku

Buku ini berisi banyak kisah kisah inspiratif orang - orang dari dua kelompok manusia di dunia ini. mereka yang berkelimpahan dan mereka yang berkekurangan. kedua kelompok ini ada untuk menyeimbangkan dunia. yang berkelimpahan memberi dan yang kekurangan menerima.


Bab demi bab dalam buku ini diambil dari 40 situasi, 40 pergumulan, 40 malam yang dipenuhi kegalauan. buku yang memberikan kekuatan dan sukacita untuk bisa tetap menari, bahkan saat sedang berada di tengah badai.


Penulis dalam buku Menari di Tengah Badai menuliskan begini Seorang guru berkata, "Hidup tidak pernah menjadi milikmu sendiri. dengan cara lain, engkau terikat dalam jaring kehidupan yang sama. menjalani takdir yang sama, hanya saja dengan peran yang berbeda-beda dalam satu panggung raksasa. sama-sama terlahir telanjang. masing-masing dari kita menjalani kehidupan, berusaha meraih legenda pribadi masing-masing. walau pada akhirnya kita akan bermuara pada akhir yang sama."


Kelebihan 

Gaya bahasa yang digunakan mudah dipahami, setiap bab berisi pesan moral dari setiap kisah dan situasi yang diceritakan dalam buku tersebut. sehingga setiap pembaca merefleksikan ke dalam diri sendiri apakah saya mampu bila saya berada dalam situasi yang di tuliskan dalam buku Menari di Tengah Badai.


Kekurangan

Di beberapa bab ada kisah yang kurang terperinci seperti bab Kamu Istimewa teramat singkat penjabaran dari Kamu Istimewa.


Minggu, 13 September 2020

Review Buku kalau Tak Untung

 

Penulis Selasih

Penerbit Balai Putaka

Catakan pertama - 1933

Cetakan keduapuluh delapan - 2011

Terdiri dari 20 bab



  Saya termasuk penggemar baca buku karya sastra lama Indonesia, walau tidak terlalu banyak buku yang terakhir saya baca beberapa bulan lalu berjudul Kalau Tak Untung, buku yang menguras hati menjadi campur aduk, bukan hanya karena isinya membuat hati menjadi haru biru, tetapi ejaan bahasanya membuat saya mencari tahu makna tulisannya karena masih menggunakan ejaan lama dan sisipan bahasa Padang yang membuat saya belajar menggunakan nalar saya untuk memahami makna dari setiap tulisan, agar saya memahami keseluruhan isi buku yang saya baca.

   Buku Kalau Tak Untung menceritakan kehidupan ditahun 1930-an, kejadian didalam buku terjadi dibeberapa tempat daerah Sumatera barat seperti Bonjol, Painan, Bukit Tinggi dan Medan Sumatera Utara. cerita dalam buku ini dimulai dari Bonjol kehidupan kedua keluarga yang masih ada hubungan kaum jauh antara keluarga Masrul yang kaya raya dan Rasmani. ibunya Rasmani menikah dengan Datuk Sinaro kehidupan mereka sangat miskin karena miskinnya kakaknya Rasmani yang bernama Dalipah sampai putus sekolah karena tidak ada biaya untuk bayar uang sekolah.

  Masrul dan Rasmani sering berangkat sekolah bersama walau usia mereka beda beberapa tahun. bagi Rasmani, Masrul merupakan pelindungnya. ketika ditengah jalan mereka bertemu dengan kuda atau kerbau lepas, Masrul akan memegang erat-erat tangan Rasmani untuk lari dan menghindar, makin lama makin kariblah persahabatan mereka. Masrul merasa canggung kalau tak bersama Rasmani, demikian juga kebalikannya. 

  Rasmani berusia 15 tahun Masrul datang ke rumah Rasmani untuk pamitan bahwa dia akan pindah kerja ke Painan sebagai juru tulis dikantor. komunikasi Masrul dan Rasmani tetap berlangsung dengan surat-suratan , Masrul sangat pintar dan kehidupan Masrul berubah dia ketemu dengan gadis modern pintar dan kaya, niat hatinya untuk menikah dengan gadis itu disampaikannya kepada Rasmani, Rasmani membalas setiap surat yang dikirim Masrul isi balasan surat Rasmani selalu mendukung yang terbaik buat Masrul tetapi hatinya menderita, Rasmani yang bekerja sebagai guru SD di Minangkabau ia membekali dirinya dengan ketrampilan jahit menjahit ikut kursus bahasa Belanda, dan sibuk mengajar ngaji untuk melupakan orang yang dicintainya.

  Sampai suatu hari surat dari Masrul datang yang menceritakan bahwa kehidupan pernikahannya kandas, Rasmani membuat surat kepada Masrul bahwa Masrul tidak boleh meninggalkan istrinya dan lain-lain .... enam bulan berlalu Masrul tidak ada kabar semakin  hancur pikiran Rasmani memikirkan Mansur. sampai tiba-tiba Mansur datang kerumahnya di Minangkabau. betapa terkejutnya hati Rasmani. sampai lama mereka pandang-pandangan tak berkata sepatah kata pun juga sampai Rasmani menahan tangis di depan Masrul. hatinya teriris-iris pertemuan itu amat mengejutkan dan melukai hatinya yang telah rusak itu.

   Masrul berkata "saya telah berhenti, Tek, dan anak-isti saya di Painan saya sekarang pulang ke kampung" mendengar itu Rasmani terkejut. setelah 3 bulan Masrul di Bonjol Masrul masih berkirim surat ke Rasmani di Minangkau, tapi tak satu pun isi suratnya menceritakan percintaan. membuat hati Rasmani semakin sakit. sampai bulan ke 4 Masrul pergi ke Medan untuk mencari pekerjaan, seminggu sampai di Medan Masrul mengirim surat kepada Rasmani bahwa Masrul sudah diterima kerja. Masrul mengirim surat untuk memutuskan hubungan mereka. sejak surat itu Rasmani menjadi sering sakit-sakitan sehingga akhirnya meninggal dunia.

  Bagian penutup dari buku ini Masrul berkata " Oh mani, bahagia apa yang kudapat lagi....mana gadis yang akan serta dengan engkau.... cinta siapa yang menyerupai cintamu...Mani Dik, hukuman ini nyata untuk seumur hidup....


Kesan dari membaca buku ini :

*  Memahami gaya percintaan jaman dulu melalui surat menyurat

*  Memahami gaya bahasa ejaan jaman dulu walau sudah beberapa kali di revisi 

Pesan dari membaca buku ini :

* Hargailah orang mencintai kita dengan tulus, sehingga kebahagian itu datang menghampiri

  kita, karena penyesalan selalu datangnya terlambat.

* Milikilah hati yang tulus walaupun cinta kadang tidak berpihak kepada kita.

* Manfaat waktu yang ada untuk melakukan hal-hal yang positif karena hidup kita
  teramat berharga dan banyak hal yang bisa kita lakukan bagi sesama yang
  membutuhkan.


Catatan Ibu Guru

Taman Doa Rumah Pengorbanan Depok

Syalom Bapak-Ibu, Opa-Oma, Opungta-Opungti, kakek-nenek, kakak-adik dan teman-teman sekalian semoga semuanya dalam keadaan sehat dan selalu ...